SN Media™ Ngawi – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau tahun 2026. Langkah ini dilakukan menyusul rilis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi musim kemarau di Jawa Timur lebih kering dan panjang.
Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Timur diprakirakan terjadi pada Agustus mendatang. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah mengingat sejumlah wilayah di Kabupaten Ngawi memiliki potensi terdampak kekeringan saat curah hujan menurun secara signifikan.Berdasarkan hasil mitigasi dan pemetaan yang dilakukan BPBD Ngawi, terdapat 11 desa di lima kecamatan yang masuk kategori rawan terdampak kekeringan. Desa-desa tersebut tersebar di Kecamatan Pitu, Sine, Bringin, Kasreman, dan Kecamatan Ngawi.
Desa yang masuk dalam daftar tersebut meliputi Desa Banjarbanggi, Desa Cantel, Desa Pitu, Desa Ngancar, dan Desa Papungan di Kecamatan Pitu. Kemudian Desa Jagir di Kecamatan Sine, serta beberapa desa lainnya yang telah dipetakan BPBD.
Selain itu terdapat Desa Suruh, Desa Sumberbening, dan Desa Kenongorejo di Kecamatan Bringin. Sementara wilayah lain yang berpotensi mengalami kekeringan yakni Desa Gunungsari di Kecamatan Kasreman serta Desa Kerek dan Desa Ngawur Purba di Kecamatan Ngawi.
Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Ngawi, Partoyo, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna menghadapi potensi dampak musim kemarau tahun ini. Menurutnya, kesiapsiagaan dilakukan sejak dini agar kebutuhan masyarakat dapat segera terpenuhi apabila terjadi kekeringan.
“Berdasarkan hasil pemetaan kami, terdapat 11 desa yang berpotensi terdampak kekeringan dengan jumlah sekitar 3.535 jiwa atau 940 kepala keluarga. Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPBD telah menyiapkan berbagai kebutuhan seperti tangki air, tandon, hingga terpal yang sewaktu-waktu dapat digunakan,” ujar Partoyo.
Selain menyiapkan kebutuhan air bersih, BPBD Ngawi juga memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau berlangsung. Upaya tersebut dilakukan bersama Perum Perhutani KPH Ngawi melalui pembuatan sekat bakar. Pembuatan sekat bakar melibatkan masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang kerap meningkat ketika musim kemarau berlangsung dalam durasi cukup panjang. Tak hanya itu, koordinasi juga dilakukan dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari TNI, Polri, hingga relawan kebencanaan di Kabupaten Ngawi.
Pun haal ini juga bertujuan memperkuat kesiapan personel dan sumber daya apabila diperlukan penanganan bencana. Partoyo menjelaskan, berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau tahun ini berlangsung mulai Mei hingga Agustus.
Meski demikian, sejumlah wilayah yang selama ini masuk kategori rawan kekeringan kini telah memiliki dukungan infrastruktur penyediaan air bersih. Dukungan tersebut berasal dari sumur Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang dibangun oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Ngawi sehingga membantu ketersediaan air bagi masyarakat.
“Keberadaan sumur Pamsimas cukup membantu masyarakat di daerah rawan kekeringan. Namun kami tetap mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan segera melapor apabila mulai terjadi kesulitan air bersih,” pungkasnya.
Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News
Pewarta: Tim
Editor : Asy
Foto/iLst : Ilustrasi
*** : ----
Copyright : SNM