SN Media™ Ngawi - Kabupaten Ngawi berada di urutan ke-28 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur dalam indikator ketidakcukupan pangan atau Prevalence of Undernourishment (PoU). Berdasarkan data BPS, angkanya mencapai 9,35 persen, menunjukkan masih ada bagian masyarakat yang belum memenuhi kebutuhan energi dan gizi secara optimal.
Angka tersebut sempat turun 0,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, kondisi ini tetap menjadi perhatian karena dalam lima tahun terakhir PoU Ngawi sempat mengalami penurunan hingga 3,4 persen, sementara sekitar satu dari 10 masyarakat masih belum memenuhi kecukupan energi dan gizi secara optimal.“PoU bukan berarti masyarakat tidak makan, tetapi energi yang dikonsumsi belum mencukupi atau komposisi gizinya belum seimbang. Jadi indikator ini lebih melihat kecukupan energi dari makanan yang dikonsumsi masyarakat,” ujar Kabid Keamanan dan Diversifikasi Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi Denny Apriyanto.
Terlebih Ngawi merupakan salah satu daerah penyangga pangan nasional. Artinya, persoalan pangan tidak hanya dilihat dari ketersediaan bahan pangan, tetapi juga bagaimana masyarakat mengonsumsi makanan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman.
“Kalau melihat indikator PoU, masih ada kesenjangan dalam konsumsi pangan masyarakat, terutama untuk karbohidrat, protein, pangan hewani dan sumber nutrisi lainnya. Karena dalam menentukan PoU ada banyak variabel yang dikombinasikan,” jelas Denny.
Kondisi tersebut menarik karena berbanding dengan indikator Pola Pangan Harapan (PPH) konsumsi. Berdasarkan data DKPP Ngawi, nilai PPH konsumsi masyarakat Ngawi justru tercatat sebagai yang tertinggi di Jawa Timur. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan hasil antara indikator PoU dengan PPH konsumsi.
Perbedaan tersebut terjadi karena PoU dan PPH konsumsi menggunakan variabel serta pendekatan pengukuran yang berbeda. PoU merupakan indikator yang dirilis Badan Pangan Nasional (Bapanas), sehingga variabel dan indikator yang digunakan tidak sepenuhnya sama dengan penghitungan PPH konsumsi oleh daerah.
Untuk mencari benang merah dari kondisi tersebut, DKPP Ngawi terus mendorong diversifikasi pangan di masyarakat. Sejumlah program telah dilakukan, seperti Gerakan Makan Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (Gemaparut), Teras Pangan B2SA, serta Aman Kartonyono.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat. Dengan begitu, capaian PPH konsumsi yang tinggi dapat berjalan seiring dengan perbaikan indikator PoU.
“Kami berharap melalui penguatan diversifikasi pangan yang terus dilakukan, angka PoU Ngawi bisa terangkat dan semakin mendekati capaian PPH konsumsi yang saat ini menjadi yang tertinggi di Jawa Timur,” pungkasnya.
Berita Sinar Ngawi Media Juga Bisa di Simak melalui : Chanel Whatsapp Atau: Google News
Pewarta: Kun
Editor : Asy
Foto/iLst : SNm
*** : ----
Copyright : SNM